Politik Bansos vs Orang Cerdas

Politik Bansos vs Orang Cerdas

EKISPEDIA.COM – Kalau kita melihat data demografi pemilih pada 2024 ini, meminjam data survey dari Mustikologi Research insight (milik seorang kawan) 100% pemilih yang tak berpendidikan cenderung memilih 02, sementara yang berpendidikan tersebar kepada tiga paslon. Data Litbang kompas juga menunjukkan rata-rata yang memilih 02 berpendidikan dasar dan menengah itu persentasenya diatas 50 % lebih.

Data Litbang Kompas

Data tingkat pendidikan masyarakat Indonesia pada tahun 2022 oleh katadata, ada sebanyak 65 jt lebih tidak/belum sekolah, 30 jt lebih tidak tamat SD, dst. itu belum termasuk jumlah putus sekolah diberbagai jenjang pendidikan. Persentase gen Z (merupakan pemilih pemula) putus sekolah lebih tinggi 18 % dari gen milenial. Menurut data UNESCO, hanya 0,001% masyarakat Indonesia yang memiliki minat baca. Ini artinya, dari 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca.

Tidak berpedidikan ini identik dengan kemiskinan. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), mayoritas (76%) penyebab utama putus sekolah adalah karena faktor ekonomi. Jadi tidak berpendidikan dan kemiskinan ini dua sejoli yang jadi komoditi suara setiap hajatan pilpres.

Golongan tidak berpendidikan sekaligus miskin ini tidak rasional dalam memilih, mereka enggak kepikir itu masalah hilirisasi, SGIE, dll. Yang laku sama mereka adalah gimmik gemoy, joget dan janji makan gratis. Kecerdasan dan kapabilitas kandidat pemimpin jelas bukan syarat utama pilihan mereka, makanya politisasi bansos itu sangat efektif.

Politisasi Bansos ini bukan hanya rezim sekarang, rezim-rezim sebelumnya juga udah praktikkan. Politisasi bansos ini akan tetap jadi kampanye efektif di pilpres-pilpres berikutnya. Kalau politisasi agama itu cuma segelintir saja, tidak signifikan, cuma sering didramatisir oleh kaum sekuler.

Dalam teori demokrasi, Seymor Martin Lipset (1959), seorang pemikir politik, dalam bukunya Political Man berkata ; “The more well-to-do a nation, the greater the chances that it will sustain democracy” (Semakin sejahtera suatu bangsa, semakin besar peluang bangsa itu menjaga keberlangsungan Demokrasi).

Demokrasi itu akan berkualitas kalau suara penentunya (decisive voter) adalah kalangan menengah berpendidikan. Itulah kenapa Socrates membenci demokrasi, karena membolehkan orang bodoh ikut bersuara.

So, tanpa mendahului takdir, nampaknya orang cerdas memang belum waktunya menjadi penentu, entah kapan…

Senior Lecturer di Tazkia University College of Islamic Economics

BACAAN LAINNYA: