Media Literasi Ekonomi Islam

Budaya Iklan Dilihat dari Sudut Pandang Konsep Etika Bisnis Islam

Masalah moral dengan iklan muncul ketika iklan kehilangan nilai normatifnya dan hanya menjadi propaganda barang dan jasa untuk mencari keuntungan

0

EKISPEDIA.COM – Salah satu profesi yang menjadi pilihan penting adalah bisnis, dimana merupakan kegiatan memproduksi dan menjual suatu produk atau jasa yang dibutuhkan konsumen pada tingkat keuntungan tertentu.

Periklanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bisnis modern saat ini, karena periklanan memegang peranan yang sangat penting dalam menyampaikan informasi (pesan) tentang suatu produk kepada masyarakat.

Jika dilihat dari dunia bisnis, periklanan merupakan kekuatan yang dapat digunakan untuk menarik konsumen sebanyak-banyaknya. Fokus utama dari iklan adalah tersedianya informasi produsen dan penawaran kepada konsumen.

Periklanan pada dasarnya merupakan salah satu strategi pemasaran yang bertujuan untuk mendekatkan barang yang akan dijual kepada konsumen, dengan kata lain mendekatkan konsumen dengan produsen. Tujuan akhir dari bisnis apapun adalah agar barang-barang manufaktur dapat dijual kepada konsumen.

Baca Juga
1 of 102

Iklan positif adalah metode penjualan barang kepada konsumen. Pemasaran melalui periklanan merupakan proses komunikasi yang bertujuan untuk mempengaruhi minat calon pembeli agar dapat memasarkan secara massal produknya.

Media baik cetak maupun elektronik, hampir setiap hari dibanjiri iklan. Akibatnya, upaya pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari tampaknya lebih banyak bertumpu pada iklan. Bahkan, iklan memainkan peran ini, yaitu sebagai kekuatan ekonomi dan sosial yang menginformasikan konsumen tentang produk dan layanan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan.

Masalah moral dengan iklan muncul ketika iklan kehilangan nilai normatifnya dan hanya menjadi propaganda barang dan jasa untuk mencari keuntungan yang lebih dari produsen barang dan jasa penyedia iklan.

Fakta ini berkaitan erat dengan bagaimana industri modern menghasilkan produk dalam skala besar, sehingga pembeli harus ditemukan untuk mereka. Hal ini juga mengacu pada adanya sistem ekonomi pasar di mana persaingan merupakan kenyataan yang harus dihadapi, sehingga periklanan sebenarnya dianggap sebagai salah satu dari strategi efektif untuk mengatasi persaingan di pasar yang semakin sulit.

Baca Juga
1 of 102

Hal ini juga merupakan bagian integral dari tujuan periklanan, yaitu untuk membuat konsumen melakukan sesuatu, yang dalam hal ini biasanya untuk membeli suatu produk. Sehingga iklan tersebut dapat menarik dan berinteraksi dengan audiensnya sedemikian rupa sehingga menghasilkan hasil yang diinginkan. Mereka juga harus terbiasa dengan cara berpikir konsumen, apa yang memotivasi mereka, dan lingkungan tempat mereka tinggal.

Zaman modern ini, kebutuhan dan keinginan konsumen terus berubah. Akibatnya, pemasar harus serius dalam upaya mereka untuk memasarkan dan mendefinisikan kebutuhan konsumen. Karena perilaku konsumen merupakan dasar yang sangat penting dari pemasaran dan periklanan. Oleh karena itu, studi yang berkesinambungan tentang perilaku konsumen dan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pembelian menjadi sangat penting dalam perilaku periklanan.

Akibatnya, persaingan komersial yang semakin meningkat telah menciptakan berbagai jenis dan model periklanan, yang terkadang jauh dari nilai etika (moralitas bisnis) dan nilai yang sebenarnya. Karena strategi ini harus diterapkan agar konsumen mau membeli produk yang ditawarkan, iklan yang ditampilkan seringkali dianggap meninggalkan kesan dan pesan yang berlebihan, serta standar etika dan nilai (moralitas) yang sering diabaikan. Oleh karena itu, iklan sering menimbulkan citra negatif perusahaan, bahkan dianggap menyesatkan.

Pengertian dan Konsep Dasar Iklan

Baca Juga
1 of 102

Kata iklan berasal dari bahasa Yunani, definisi luas dari periklanan adalah setiap kegiatan untuk menyajikan dan mempromosikan ide-ide, barang atau jasa dengan cara yang impersonal, dibayar oleh sponsor tertentu. (Stewat H. Rewoldt, 1995).

Etika (2007), pada gilirannya mendefinisikan periklanan sebagai komunikasi pemasaran atau komunikasi publik tentang produk yang disampaikan melalui media yang disponsori oleh penulis terkenal dan diarahkan ke sebagian atau seluruh komunitas. Ini berarti bahwa segala sesuatu yang meliputi penciptaan, desain, penyampaian dan umpan balik pesan komunikasi pemasaran, informasi yang diarahkan konsumen tentang keberadaan produk dan “kemampuan” produk disebut periklanan.

Periklanan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan penjualan. Iklan juga secara signifikan mempengaruhi citra produk dan produsennya dan dapat meninggalkan kesan lengket pada konsumen. Iklan, yang merupakan panduan gambar, . kata, dan suara, dapat dilihat dari berbagai sudut. Iklan juga dapat dinilai sebagai barang menarik

Lebih lanjut, menurut Subagyo Harry Afandi (2000), iklan juga erat kaitannya dengan nilai budaya dan sosial lokal serta humanisme global. Iklan menjadi pertukaran yang luar biasa antara modal ekonomi dan modal budaya dengan modal sosial, yang darinya muncul citra yang berbeda. Dengan demikian, periklanan tidak hanya terkait dengan nilai dan selera konsumen, tetapi dengan berbagai nilai psikologi masyarakat seperti kohesi, semangat, etika dan lain-lain. Menyesuaikan pesan iklan dengan perubahan selera masyarakat adalah strategi komunikasi bagi konsumen.

Ada ciri-ciri khas iklan yang dipaparkan oleh Sobagyo Harry Affandi (2004), yaitu:

  1. Public presentation (penyajian di muka umum), iklan merupakan suatu sarana komunikasi yang sangat bersifat umum.
  2. Pervasivees (penyerahan menyeluruh), iklan merupkan medium yang diserap secara menyeluruh dan memungkinkan pihak perusahaan untuk menaggulangi pesannya itu berulang-ulang.
  3. Expresivenes (daya ungkap yang kuat), iklan memberikan peluang untuk menampilkan perusahaan serta produknya dengan cara yang amat mengesankan dengan penggunaan cetakan, bunyi dan warna secara pandai.
  4. Impreseonality (kurang kepribadian), iklan senantiasa bersifat umum, daya meyakinkan dan mengungkapkan masih kurang.

Disadari atau tidak, iklan atau papan reklame merupakan bagian integral dari bisnis modern. Fakta ini erat kaitannya dengan bagaimana industri modern menghasilkan produk dalam jumlah besar, oleh karena itu perlu mencari pembeli untuk mereka.

Selain itu, ada kaitannya dengan sistem ekonomi pasar dimana persaingan dan persaingan merupakan elemen penting. Dalam hal ini, periklanan sebenarnya dianggap sebagai salah satu cara paling efektif untuk membedakan dari pesaing (K. Bertens, 2000). Dan untuk memberikan dukungan kepada media agar publik dapat menikmatinya dengan harga murah. Promosi iklan dilakukan secara tidak langsung dengan melalui media cetak, media elektronik atau media lainnya (billboard, spanduk dll) tergantung pada strategi pengelolaan pasar dan situasi pasar saat ini dan masa depan.

Dengan demikian, menurut Muhammad (2000), tujuan dari iklan sebenarnya adalah untuk menciptakan citra produk dan perusahaan di mata orang. Citra ini terbentuk dari kesesuaian antara realitas produk yang diiklankan dengan informasi yang disampaikan dalam iklan. Jadi, prinsip etika bisnis yang paling penting dalam hal ini adalah kejujuran. Dengan demikian, iklan yang membuat klaim palsu atau tidak benar dengan maksud menipu konsumen adalah penipuan.

Persoalan Etis dalam Iklan

Secara sederhana, Dewo Sunarno (2006) berpendapat bahwa etika adalah cabang filsafat yang mencari jawaban atas pertanyaan moral. Etika mencakup prinsip-prinsip moral dasar yang memandu perilaku manusia. Dengan kompleksnya masalah moral di dunia sekarang ini, tidak mudah menerapkan dikotomi (benar-salah) pada setiap masalah moral. Setiap masalah dapat dilihat dari perspektif yang berbeda dan dapat menghasilkan pendapat atau penilaian yang berbeda.

Hari ini, periklanan telah menjadi dunia yang indah. Iklan mengubah barang menjadi merek yang berkilau. Perkembangan dunia industri, di mana periklanan hanyalah sebuah proses menarik perhatian terhadap sesuatu, telah mencapai titik di mana periklanan seolah menguasai segalanya. Dunia periklanan menjadi pusat perhatian ketika kapitalisme mengubah dunia nyata menjadi dunia gambar. Dunia periklanan secara keseluruhan berkembang sebagai sistem informasi komersial, persuasi dan citra dari sistem kapitalisme.

Sementara di sisi lain harus kita akui, bahwa perdagangan terkadang menimbulkan kejahatan dalam penjualannya. Seandainya saja dilahirkan peraturan yang mengikat, pun juga tidak akan optimal. Sampai pedagang itu sendiri memiliki rencana yang baik disertai niat yang baik, sesuai dengan konsep perdagangan dalam Islam.

Berbagai cara dalam kelembagaan sudah melakukan perbaikan dalam upaya pemasaran. Salah satu yang memiliki sumbangan besar dalam pemasaran adalah lembaga periklanan. Iklan atau periklanan akan mewujudkan fragman yang bernuansakan modern, meski produk yg ditawarkan masih bersifat tradisional. Sehingga pada akhirnya muncul pertandingan yang pesat dalam dunia periklanan, meskipun terkadang mengenyampingkan etika dan Budi bahasa serta jauh dari titah-titah kebenaran.

Berbagai jenis iklan, dari siaran tradisional hingga cetak dan media yang lebih modern seperti radio, televisi, dan Internet. Kesemuanya itu sedikit banyak meningkatkan penjualan produk yang dibuat oleh unit bisnis. Di balik keberhasilan periklanan dalam mendorong penjualan produk di bisnis tersebut, terdapat beberapa masalah pendorong, hingga masalah etika. Ketika konten dan tampilan iklan dianggap curang dan menipu bagi konsumen.

Dalam dunia periklanan pada umumnya, Heru Satya Nugraha membagi menjadi dua masalah etika yang saling berkaitan, yaitu:

1. Menyangkut kebenaran akan sebuah iklan

Pada umumnya periklanan tidak mempunyai reputasi baik sebagai pelindung atau pejuang kebenaran. Kerap kali iklan terkesan suka membohongi, menyesatkan, dan bahkan menipu publik.

2. Manipulasi publik (khalayak)

Hal ini berkaitan dengan segi persuasif dari iklan (tapi juga tidak terlepas dari informasinya). Karena dimanipulasi, seseorang mengikuti motivasi yang tidak berasal dari dirinya sendiri, tapi ditanamkan dalam dirinya dari luar.

Meminjam pernyataannya, Siswanto Sutojo (2002), masalah etika yang ditimbulkan oleh periklanan, terutama yang bersifat manipulatif dan persuasif secara irasional, mempengaruhi masyarakat, khususnya konsumen. Periklanan manipulatif adalah iklan yang mempengaruhi seseorang sesuai keinginannya terhadap produk yang diiklankan sedangkan iklan persuasif irasional adalah iklan yang mempengaruhi atau menggunakan aspek psikologis orang untuk menarik minat dan memotivasi konsumen untuk membeli produk. Daya persuasive tidak terletak pada isi argumen logisnya, tetapi pada penampilannya yang seringkali tidak ada hubungannya dengan produk yang diiklankan.

Sedangkan Muhammad Djakfar (2002) menyebutkan terdapat masalah etika yang ditimbulkan oleh periklanan, yaitu iklan manipulatif dan iklan persuasif irasional, antara lain:

- Advertisement -

  • Pertama, iklan merong-rong otonomi dan kebebasan manusia. Artinya, iklan membuat manusia tidak lagi dihargai kebebasannya dalam menentukan pilihannya untuk memperoleh produk tertentu. Banyak pilihan dan pola konsumsi manusia modern sesungguhnya adalah pilihan iklan. Manusia didekte oleh iklan dan tunduk kepada kemauan iklan, khususnya iklan manipulatif dan persuasif non- rasional. Pada fenomena iklan manipulatif, manusia benar-benar menjadi objek untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dan tidak sekedar diberi informasi untuk memebantunya memilih produk tertentu.
  • Kedua, dalam kaitan dengan itu iklan manipulatif dan persuasif non-rasional menciptakan kebutuhan manusia dengan akibat manusia modern menjadi konsumtif. Secara ekonomis hal itu baik karena akan menciptakan permintaan dan ikut manaikkan daya beli masyarakat, bahkan dapat memacu produktifitas kerja manusia hanya demi memenuhi kebutuhan hidupnya yang terus bertambah dan meluas. Namun dipihak lain muncul masyarakat konsumtif, dimana banyak dari yang dianggap manusia sebagai kebutuhannya yang sebenarnya bukan kebutuhan hakiki.
  • Ketiga, yang juga menjadi persoalan etis yang serius adalah bahwa iklan manipulatif dan persuasif non-rasional malah membentuk dan menentukan identitas atau ciri dari manusia modern. Manusia modern merasa belum menjadi dirinya kalau belum memiliki barang sebagaimana ditawarkan dalam iklan. Identitas manusia modern hanyalah identitas misal: serba sama, serba tiruan, serba polesan, dan serba instant. Manusia mengkonsumsi produk yang sama, maka jadilah identitas manusia modern yang hanya menjadi rancangan pihak tertentu di fabricated. Yang di pujapun lebih banyak berkesan luar, polesan, dan kepura-puraan.
  • Keempat, bagi masyarakat modern, tingkat perbedaan ekonomi dan sosial yang tinggi akan merong-rong rasa keadilan sosial masyarakat. Iklan yang menampilkan yang serba mewah sangat ironis dengan kenyataan sosial, dimana banyak anggota masyarakat masih berjuang sekedar hidup. Iklan yang mewah tampil sekan-akan tanpa punya rasa solidaritas dengan sesama yang miskin.

Kendati dalam kenyataan praktis sulit menilai secara umum etis tidaknya iklan tersebut, Yusuf Qrdlawi (1995) memaparkan beberapa prinsip yang kiranya perlu diperhatikan dalam iklan, yaitu: Pertama, iklan tidak boleh menyampaikan informasi yang palsu dengan maksud untuk memperdaya konsumen. Masyarakat dan konsumen tidak boleh diperdaya oleh iklan untuk membeli produk tertentu. Mereka juga tidak boleh dirugikan hanya karena telah diperdaya oleh iklan tertentu.

Memang, pada pandangan pertama, kedua istilah “etika” dan “promosi” tampak sangat berbeda dan tidak berhubungan. Namun, menurut KTI. Mualim (2001) sebenarnya memiliki hubungan yang erat antara keduanya. Etika adalah kode etik yang mempengaruhi ekspektasi perilaku sosial sesuai dengan standar Konvensi yang berlaku untuk kelompok sosial tertentu. Karena etika mencapai proses pemikiran dan kesadaran dalam menentukan suatu pendapat atau perilaku. Sedangkan periklanan harus dikomunikasikan kepada khalayak agar dapat diterima, dan periklanan juga harus mengetahui “persepsi konsumen” akan erat kaitannya dengan nilai-nilai budaya. Dimana etika juga dianggap terangkum menurut nilai-nilai budaya masyarakat. hadirin.

Jadi bagian dalam surah ini eksplisit bahwa tata krama dan advertensi memegang relevansi yang sangat erat sekali. Kepuasan pelanggan ujung sekarakter komoditas terpulang depan ketulusan advertensi yang ditayangkan karena pelanggan tidak semata-mata sekedar butuh membenarkan desakan, akan tetapi ia juga menolak kepuasan. Sebab sebagaimana diutarakan oleh Philip Kotler dan Gary Amstrong (1997), bahwa target pecah periklanan itu awak untuk menyilakan pelanggan mengamalkan pembelian suatu komoditas atau jasa.Karena itulah pengkajian budi pelanggan yang didasarkan depan faaktor budaya, sosial, isi tempuh spiritual berperan anggota yang sangat penting bagian dalam membicarakan desakan dan sifat pembelian pelanggan. Dan tata krama merupakan “negative consumer insight”, yaitu suatu bendung yang menutupi kreatifitas agar wejangan relasi tidak di buang oleh khalayak.

Periklanan dalam Perspektif Etika Islam

Etika bisnis sebagai seperangkat nilai benar, salah dan salah dalam bisnis berdasarkan prinsip-prinsip etika. Dalam pengertian lain, etika bisnis mengacu pada seperangkat prinsip dan standar yang harus dilakukan oleh entitas bisnis dalam transaksi, perilaku, dan hubungan mereka untuk mencapai tujuan bisnis mereka dengan aman.

Menurut norma R. Lukman Fauroni (2002), moralitas dalam al-Qur’an tidak menampilkan dirinya sebagai struktur otonom yang terpisah dari struktur lain, dalam arti ilmiah dan moral. Struktur moral dalam Al-Qur’an lebih lanjut menjelaskan tentang nilai kebaikan dan kebenaran baik dari segi niat atau gagasan serta tindakan dan perangai. Hal ini semakin nyata jika kita melihat gambaran tentang sikap dan perilaku Nabi Muhammad SAW yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai memiliki akhlak yang agung.

Keberadaan nilai-nilai tersebut bersifat terbuka, menjelajahi segala bidang kehidupan. Etika bisnis dalam Al-Qur’an, dari sudut pandang ini, tidak dapat dilihat hanya sebagian dari perspektif etika, karena bahkan bisnis, dari sudut pandang Al-Qur’an, sudah terintegrasi dengan nilai-nilai moral mereka sendiri. Al-Qur’an dengan jelas menggambarkan perilaku bisnis yang tidak etis, yang dapat ditelusuri kembali ke muara kejahatan bisnis.

Islam adalah agama yang sempurna (kamil) dan universal  (mutakamil). Ajaran Islam mencakup semua aspek kehidupan manusia. Tidak ada bagian dari kehidupan manusia yang luput dari visi Islam. Demikian pula, Islam berurusan dengan masalah ekonomi.

Berapa banyak ayat Al-Qur’an dan cerita tentang nabi telah mengungkapkan dalam hal ini. Diantaranya, Islam juga berbicara tentang masalah etika. Dengan demikian, dalam setiap kegiatan ekonomi, apa yang dilakukan seseorang harus sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan dalam Islam untuk menyingkirkan Allah SWT.

Bagi seorang Muslim, model-setting tradisional yang berkonotasi humanistik adalah “ekonomi murni” (pelaku ekonomi mencari keuntungan sendiri tanpa memperhatikan kepentingan orang lain) tidak sepenuhnya sesuai dengan nilai-nilai moral Islam.

Dengan demikian, konsep moralitas dari sudut pandang Islam maju pada saat aksioma  sudah dikenal (misalnya sistem kapitalis). Oleh karena itu, apresiasi manusia secara umum terhadap hal-hal yang lambat harus disalurkan melalui petunjuk-petunjuk rambu-rambu wajib syariah. Perubahan nilai ini akan membantu membentuk sistem penerapan manual mekanisme produk ekonomi syariah, karena konten dan perspektif yang paling “brilian” adalah adanya dimensi etika berdasarkan wahyu (Faisal Badroen, 2006).

Konsisten dengan hal di atas, Yusuf Qardlawi (1995) mengatakan, dari sudut pandang Islam, setiap individu atau kelompok orang, di satu sisi memiliki kebebasan untuk mencapai kebaikan terbesar, tetapi di sisi lain, ia terikat oleh iman. dan moral, dia tidak sepenuhnya bebas menginvestasikan modal (usaha) atau membelanjakan kekayaannya. Oleh karena itu, umat Islam tidak dapat bebas tanpa kontrol dalam melakukan berbagai kegiatan ekonomi, tetapi masih terikat oleh norma-norma agama yang disebut moral atau etika.

Sementara itu, dalam kajian fiqih Islam, Muhammad Djakfar (2002)  menjelaskan bahwa kebenaran dan keakuratan informasi ketika agen komersial mempromosikan barang mereka menyumbang studi yang sangat penting.

Islam tidak mengenal istilah dari kapitalisme klasik yang berbunyi sebagai “pendahulu” atau “pembeli berhati-hati” (pembeli harus berhati-hati), atau “penjual tidak” (pedagang harus berhati-hati). Namun dalam Islam yang berlaku adalah prinsip keseimbangan (alta’adul) atau keseimbangan bahwa pembeli dan penjual harus berhati-hati dalam menyepakati secara teoritis (nadzariyyat al ‘uqud) dalam Islam.

Mengenai prinsip dasar etika bisnis Islam yang dikemukakan oleh Faisal Badroen (2006), yaitu:

1. Unity (persatuan)

Konsep tauhid (vertikal) di mana Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa memberikan batasan-batasan tertentu atas perilaku manusia sebagai khalifah, untuk kemaslahatan individu tanpa mempengaruhi hak individu lainnya. Hak dan kewajiban ekonomi setiap individu disesuaikan dengan kemampuan dan kapasitasnya dan diselaraskan dengan peran normatif masing-masing dalam struktur sosial. Dan Islam tidak mengakui adanya golongan sosial ekonomi sebagai sesuatu yang bertentangan dengan prinsip persamaan dan prinsip persaudaraan (ukhuwah). Karena menganut ajaran Islam dalam segala hal, maka dianggap mendapatkan Ridlo Allah SWT.

2. Equilibrium (keseimbangan)

Dalam bekerjanya dunia kerja dan bisnis, Islam mewajibkan  untuk berlaku adil, terutama terhadap orang yang tidak dicintai.  Pemahaman keadilan dalam Islam diarahkan agar hak orang lain, hak lingkungan sosial, hak alam semesta, dan hak Allah dan Rasul-Nya  berperan sebagai pemangku kepentingan dalam bertindak keadilannya. Orang-orang memiliki kesetaraan dan keseimbangan kesempatan, dan setiap individu dapat memperoleh manfaat darinya sesuai dengan kapasitasnya (kemampuan dan kapasitas). Individu diciptakan  (oleh Allah) dengan berbagai kemampuan, keterampilan, kebijaksanaan dan bakat. Manusia sangat ditantang untuk hidup bersama, bekerja sama, dan saling membantu dengan keahliannya masing-masing.

3. Free Will (kehendak bebas)

Konsep Islam memahami bahwa lembaga ekonomi seperti pasar dapat berperan efektif dalam kehidupan ekonomi. Hal ini berlaku jika prinsip persaingan bebas dapat diterapkan secara efektif, dimana pasar tidak mengharapkan campur tangan dari pihak manapun. tidak terkecuali untuk Negara dengan pengatur harga atau untuk sektor swasta dengan kegiatan monopoli.

4. Responsbility (tangung jawab)

Penerimaan dekat masukan tangung sambut manusia ini berarti setiap macam akan diadili secara personal di perian hari penghabisan kelak. Tidak tersua tunggal peraturan pun hisab seseorang kepada membersihkan sikap-sikap jahatnya kecuali pakai menghormat ampunan menjelang Allah dan mengamalkan sikap-sikap yang baik (sedekah sholeh). Islam tidak menggeluti ilmu rangrangan kekeliruan wrisan, dan tidak tersua seorang pun bertangung sambut pangkal kekufuran-kekufuran macam lain.

5. Benevolence (ihsan)

Ihsan yaitu melakukan perbuatan baik yang dapat bermanfaat bagi orang lain, tanpa kewajiban khusus yang membutuhkan tindakan tersebut atau dengan kata lain beribadah dan berbuat baik seolah-olah Anda melihat Allah, jika Anda tidak dapat melakukannya, maka yakinlah bahwa Allah melihat.

Meskipun Al-Qur’an menyatakan bahwa bisnis itu legal, namun, setiap usaha ekonomi yang dilakukan dengan orang lain tidak membuat seseorang mengingat Allah dan menjalankan semua perintah-Nya. Seorang muslim diperintahkan untuk selalu mengingat Allah baik dalam situasi sukses bisnis atau kegagalan dalam bisnis. Kegiatan bisnis juga tunduk pada sistem etika yang terkandung dalam Al-Qur’an. Muslim yang percaya pada harus bekerja keras untuk kenyamanan terbaik di akhirat, menikmati semua hadiah yang telah diberikan Allah di negeri ini.

Sedangkan iklan merupakan sarana promosi. Promosi adalah bagian dari bauran pemasaran. Pemasaran dari sudut pandang Syariah adalah semua bisnis dalam aktivitas penciptaan nilai yang memungkinkan para pemain untuk mengembangkan dan menggunakan untuk keuntungan mereka secara jujur, adil, terbuka dan tulus melalui proses berdasarkan prinsip-prinsip Islam (kontrak mumalah).

Dalam konteks etika pemasaran yang bernuansa Islami, dapat dicari pertimbangan dalam Al-Quran. Al-Quran memberikan dua persyaratan dalam proses bisnis yakni persyaratan horizontal (kemanusiaan) dan persyaratan vertical (spiritual). Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah: 1-2, yang artinya:

Kitab (Al-Quran) ini tidak ada yang diragukan didalamnya. Menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”.

Sinyal-sinyal diatas sangat cocok untuk dijadikan pedoman dalam pelaksanaan proses pemasaran karena pemasaran merupakan bagian yang sangat penting dan menjadi mesin dari sebuah bisnis. Begitu juga dengan petunjuk yang Allah telah nyatakan dalam Al Quran, maka juallah itupun kita harus bisa memberikan garansi atas produk yang kita miliki.

Jadi, ketika sebuah perusahaan ingin berkembang, dibutuhkan iklan sebagai sarana promosi untuk memperkenalkan dan mengingat produk kepada masyarakat. Untuk membuat iklan diperlukan faktor-faktor yang sangat penting untuk keberhasilan iklan tersebut agar dapat meningkatkan penjualan.

Sementara kasus fikih termasuk dalam mumalah yang memungkinkan orang untuk melakukan transaksi atau hubungan perdata satu sama lain. Dalam kasus muamalah, aktivitas apapun diperbolehkan selama tidak ada dalil yang menentangnya (alashlu filmu ‘bahkan alibahah illa ayyadulla dalilun’ ala tahrimiha).

Jual beli dianggap sah dalam Islam selama tidak ada unsur anti syariah seperti adanya unsur maysir, gharar dan riba. Artinya dalam pemasaran syariah, seluruh proses, baik penciptaan, penawaran, maupun modifikasi nilai (nilai), tidak boleh mengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan akad dan prinsip-prinsip aturan muamalah Islam. Selama hal ini dapat dipastikan dan penyimpangan dari prinsip-prinsip muamalah Islam tidak terjadi dalam setiap transaksi atau proses bisnis, segala bentuk transaksi pemasaran dapat diizinkan.

Wallahu a’lam

-----------

Ikuti kabar terkini lainnya di Google News

You might also like
Leave a comment